Mengenai Saya

Foto saya
Twitter : @moch_riandy l Facebook : Riandy Astadipraja

Rabu, 18 Januari 2012

Leher Kelelawar – Sebuah Catatan Mahasiswa Bodoh

Sebelum gue nulis ini, eh ngetik ding, gue teringat sesuatu (diiringi musik horor). Waktu itu sekitar 3-4 bulan yang lalu ada yang nanya via sms, “kok kamu udah gak pernah bilang kangen lagi sih sekarang?”. Wktu itu gue sedang menikmati nikmatnya tiduran, langsung ngedadak bangun, dengan mata melotot, lidah menjulur, badan tegap nan kaku dan terdiam, seperti orang kesurupan atau pocong kesurupan (itu sebagai hantu dia gagal -,-) atau sperti orang lagi nahan mau boker sambil megang batu anget yang tipis dan lonjong! Tapi, gak tau kenapa baru sekarang gue bisa jawab (di dalam hati) dan ngerasain itu! Entah berapa besar refleks gue kalo dimasukkan ke dalam angka, mungkin 40. Gue emang bukan Abang Casillas, Aa Buffon, Mas De Gea atau bahkan Uwa Hendro Kartiko (yang suka blunder) yg mempunyai refleks di atas 90 (kecuali yg lokal ya). Tapi satu hal, mungkin gue seperti Paolo Maldini atau John Terry yg mempunyai pertimbangan kuat yang gue yakini wktu itu.
Waktu itu gue terlalu fokus untuk mewujudkan cita-cita serta ambisi gue yg udah sejak lahir gue impi-impikan (lebay gak ya -__- ), yaitu ingin sperti gayus (bukan ingin jadi koruptor, tapi ingin pekerjaannya). Sehingga harus gue korbankan perhatian gue ke dia. Karena untuk bisa mewujudkan sesuatu yg kita harapkan, kita juga bergantung dengan Sang Pencipta. So, gue pun berusaha untuk tak ada noda sedikitpun (gue harap pembaca mengerti apa maksudnya) dalam perjalanan itu sampe semuanya pasti. Dan ketika kepastian itu datang, sekarang gue harus terima kenyataannya kalo gue udah kehilangan semuanya. Ceediiih beudh dech T.T huft huuupet (bahasa alay numpang lewat).
Notes ini gue lebih ditujukan kepada orang yang terakhir menyebut gue dengan sebutan “leher”. Entah ada apa dengan leher gue, imutkah, seksikah, atau karena ada aksesories acnes yg membentang luas di leher gue. Yang jelas wktu itu ketika dia menggoda leher gue, dia tertawa, senang di atas penderitaan orang dan gue pun lebih-lebih jelalatan melindungi leher gue dari jangkauannya.
Hmm, semoga sekarang dia semakin bahagia, apalagi sekarang udah ada orang yang akan selalu buat dia bahagia. Sesuai dengan apa yang dia harapkan, gak seperti gue yang suka buat dia kecewa, kesel, marah, dan gak ketinggalan si galau juga ikutan.
Kini ku jalani hari-hariku serasa sendiri, lebih sering merasakan kesepian, tapi dengan begitu gue bersyukur bisa lebih menghargai arti kebersamaan. Kemana-mana sendiri, hal yg gak biasa gue lakukan sebelumnya namun sekarang harus terbiasa. Waktu itu ke WC pun minta anter, minta ‘dipegangin’, tapi sekarang?? Mungkin hanya dengan menjadi model iklan shampoo (sunsilk) supaya gue bsa jadi orang yang slalu bahagia.
You’re the first for me about everything, you make me know the mean of love in teenagers, and it won’t ever forgotten. Thanks for the reader. Muach :*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar