Sebelum
gue nulis ini, eh ngetik ding, gue teringat sesuatu (diiringi musik horor).
Waktu itu sekitar 3-4 bulan yang lalu ada yang nanya via sms, “kok kamu udah gak
pernah bilang kangen lagi sih sekarang?”. Wktu itu gue sedang menikmati
nikmatnya tiduran, langsung ngedadak bangun, dengan mata melotot, lidah
menjulur, badan tegap nan kaku dan terdiam, seperti orang kesurupan atau pocong
kesurupan (itu sebagai hantu dia gagal -,-) atau sperti orang lagi nahan mau
boker sambil megang batu anget yang tipis dan lonjong! Tapi, gak tau kenapa
baru sekarang gue bisa jawab (di dalam hati) dan ngerasain itu! Entah berapa
besar refleks gue kalo dimasukkan ke dalam angka, mungkin 40. Gue emang bukan
Abang Casillas, Aa Buffon, Mas De Gea atau bahkan Uwa Hendro Kartiko (yang suka
blunder) yg mempunyai refleks di atas 90 (kecuali yg lokal ya). Tapi satu hal,
mungkin gue seperti Paolo Maldini atau John Terry yg mempunyai pertimbangan
kuat yang gue yakini wktu itu.
Waktu
itu gue terlalu fokus untuk mewujudkan cita-cita serta ambisi gue yg udah sejak
lahir gue impi-impikan (lebay gak ya -__- ), yaitu ingin sperti gayus (bukan ingin
jadi koruptor, tapi ingin pekerjaannya). Sehingga harus gue korbankan perhatian
gue ke dia. Karena untuk bisa mewujudkan sesuatu yg kita harapkan, kita juga
bergantung dengan Sang Pencipta. So, gue
pun berusaha untuk tak ada noda sedikitpun (gue harap pembaca mengerti apa
maksudnya) dalam perjalanan itu sampe semuanya pasti. Dan ketika kepastian itu
datang, sekarang gue harus terima kenyataannya kalo gue udah kehilangan
semuanya. Ceediiih beudh dech T.T huft huuupet (bahasa alay numpang lewat).
Notes
ini gue lebih ditujukan kepada orang yang terakhir menyebut gue dengan sebutan
“leher”. Entah ada apa dengan leher gue, imutkah, seksikah, atau karena ada
aksesories acnes yg membentang luas di
leher gue. Yang jelas wktu itu ketika dia menggoda leher gue, dia tertawa,
senang di atas penderitaan orang dan gue pun lebih-lebih jelalatan melindungi
leher gue dari jangkauannya.
Hmm,
semoga sekarang dia semakin bahagia, apalagi sekarang udah ada orang yang akan
selalu buat dia bahagia. Sesuai dengan apa yang dia harapkan, gak seperti gue
yang suka buat dia kecewa, kesel, marah, dan gak ketinggalan si galau juga
ikutan.
Kini
ku jalani hari-hariku serasa sendiri, lebih sering merasakan kesepian, tapi
dengan begitu gue bersyukur bisa lebih menghargai arti kebersamaan. Kemana-mana
sendiri, hal yg gak biasa gue lakukan sebelumnya namun sekarang harus terbiasa.
Waktu itu ke WC pun minta anter, minta ‘dipegangin’, tapi sekarang?? Mungkin
hanya dengan menjadi model iklan shampoo (sunsilk) supaya gue bsa jadi orang yang
slalu bahagia.
You’re
the first for me about everything, you make me know the mean of love in
teenagers, and it won’t ever forgotten. Thanks for the reader. Muach :*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar