Mengenai Saya

Foto saya
Twitter : @moch_riandy l Facebook : Riandy Astadipraja

Selasa, 10 Februari 2015

Salah Kaprah Tentang Skripsi



SALAH KAPRAH TENTANG SKRIPSI



Belakangan ini di lingkungan sekitar saya, skripsi menjadi trending topic di kalangan teman-teman baik di dunia nyata maupun dunia maya. Intensitas obrolan mengenai skripsi meningkat tajam ketika para mahasiswa tingkat akhir sedang berkumpul. Up-date-an tentang skripsi di segala macam media sosial menjadi suatu hal yang mainstream untuk diperbincangkan oleh mereka dalam beberapa minggu terakhir ini.

Tapi, hikmah di balik itu semua adalah banyak para mahasiswa tingkat akhir yang sadar, bahwa perjuangan yang sebenarnya sebagai mahasiswa sudah ada di depan mata. Mereka akhirnya insyaf dan kembali ke jalan yang benar (shirathal mustaqim). Sudah ada beberapa tindakan pembaharuan dari mereka yang dilakukan hanya untuk skripsi, seperti semakin rajinnya mereka ke perpustakaan untuk melihat-lihat kumpulan skripsi. Iya cuma melihatnya aja, dibacanya sih enggak. Ada juga yang menjelang skripsi ini beberapa dari mereka jadi ngedadak lebih rajin ibadahnya. Puasa senin-kamis makin rajin, shalat tahajud makin rajin, shalat dhuha makin rajin, tapi shalat lima waktu masih bolong-bolong.

Tahap paling awal dalam proses penyusunan skripsi yaitu pengajuan judul skripsi. Nah ini inti dari yang mau dibahas. Saya menemukan beberapa fenomena yang terjadi pada teman-teman saya dalam upaya mereka untuk membuat outline pengajuan judul skripsi yang menurut saya sudah salah kaprah. Fenomena-fenomena tersebut antara lain (maaf kalau ada yang merasakan hal yang sama):

1.    Mencari Judul, Bukan Membuat Judul

Akhir-akhir ini, walaupun masa perkuliahan libur, baik perpustakaan universitas maupun fakultas, diramaikan dengan mahasiswa tingkat akhir. Mereka bilang, mau mencari judul. Benar. Apa yang mereka lakukan memang mencari judul. Karena kebanyakan dari mereka itu hanya mencari-cari judul skripsi pada kumpulan skripsi yang sudah tersedia dan kemudian mencatat beberapa judul yang menurut mereka cocok untuk nanti diajukan pas pengajuan judul. Itu semua dilakukan tanpa membaca dan memahami isi dari skripsi tersebut. Akibatnya, orang-orang seperti ini jelas akan kesulitan ketika membuat fenomena dalam outline pengajuan judul, karena mereka enggak paham dengan permasalahan yang ada pada judul skripsi yang mereka catat.

Seharusnya, niat awalnya bukan mencari judul, tapi membuat judul. Kalau membuat judul, prinsipnya adalah baca-baca dulu, baru nulis. Bukan sebaliknya. Jadi, mahasiswa datang ke perpus itu cuma untuk mencari referensi dan inspirasi dalam membuat outline pengajuan judul. Bukan ujug-ujug mencari judul, catat, kemudian bacanya belakangan. Atau bahkan enggak dibaca sama sekali. Ini salah kaprah.

2.    Kebiasaan Meng-Copy-Paste

“Saya tahu mana mahasiswa yang menyusun skripsinya copy-paste sama yang murni dari pikiran dia sendiri. Kalau dalam outline pengajuan judul aja ketahuan sudah copy-paste, saya pasti akan tolak pengajuan judulnya itu,” kata Bpk. Adi Setiawan, S.E., M.M. selaku Sekretaris Jurusan Manajemen Unswagati.

Dalam skripsi, bukan hal yang mengejutkan dengan istilah copy-paste, karena tugas sehari-hari yang biasa kita kerjakan sebagai mahasiswa juga pasti nggak terlepas dari bantuan copy-paste dari internet. Kalau di skripsi beda, referensi dari internet itu bukan referensi yang kuat, karena itu merupakan data sekunder yang diolah lagi dari sumber aslinya oleh pihak lain. Permasalahannya, copy-paste ini sudah menjadi kebiasaan bagi mahasiswa, karena kebanyakan mahasiswa memang suka cara yang instant dan enggak mau ribet.

Sebenarnya dalam skripsi diperbolehkan untuk copy-paste, tapi itu untuk kutipan narasumber yang sifatnya teoritis. Tapi kalau bagian lain seperti latar belakang aja copy-paste, itu tidak diperbolehkan. Lebih parahnya, kalau cover aja sampe copy-paste. Perlu diingat lho, dalam skripsi itu ada surat pernyataan bahwa karya ilmiah kita ini benar-benar orisinil karya kita sendiri, bukan plagiat atau menjiplak karya orang lain. Kalau ketahuan enggak orisinil, bakal ada konsekuensi atau sanksi yang harus diterima.

3.    Terlalu Fokus Pada Judul dan Mengabaikan Fenomena

“Pengen seratus judul pun yang kalian ajukan, kalau maksud dan arahnya enggak jelas, akan kalah dengan hanya satu judul tapi maksud dan arahnya jelas,” lanjut kata Sekjur Manajemen Unswagati tersebut.

Kalau dalam kutipan di atas, pihak jurusan atau tim verifikator akan mengetahui maksud dan arah dari judul skripsi dari latar belakang masalah atau fenomena yang terdapat dalam outline pengajuan judul. Kebanyakan mahasiswa hanya fokus memikirkan judul. Bagaimana seharusnya kalau judul kita bisa langsung di-acc? Bagaimana seharusnya membuat judul yang unik supaya nggak ‘pasaran’? Bagaimana seharusnya membuat judul yang metlitnya mudah? Dan lain sebagainya. Tanpa disadari mereka terlalu fokus pada judul, sehingga fenomena yang nggak kalah penting ini tidak diberi perhatian khusus seperti layaknya pada judul.

4.    Judul Tidak Terukur

Sebelum membuat judul skripsi yang nanti akan diajukan, kita harus sudah memikirkan jauh ke depan. Seenggaknya punya bayangan atau gambaran ke depannya penelitian kita seperti apa. Judul yang kita ajukan nanti harus dapat terukur dan visible dalam proses penelitiannya dari segi waktu, tempat, biaya, objek penelitian, metlit, proses pengumpulan data, dll. Contoh fenomena judul yang tidak terukur yang saya temukan dari bidang kajian manajemen keuangan, ada yang membuat judul “Analisis Kinerja Keuangan dengan Menggunakan Rasio Keuangan Pada PT. XXX periode 2011-2014”. Sebelum membuat judul seperti ini, seharusnya kita pastikan terlebih dahulu judul ini bisa dilanjutkan untuk diteliti atau tidak dengan berbagai kriteria. Saya ambil contoh kriteria pengumpulan data. Judul ini diperlukan laporan keuangan PT. XXX dari tahun 2011-2014. Kita pastikan data itu ada. Setelah coba saya check datanya sampai saat ini, ternyata laporan keuangan perusahaan yang dimaksud hanya ada untuk tahun 2011-2013, tahun 2014 belum di-pubblish karena saat ini masih awal tahun. Biasanya awal tahun perusahaan masih dalam proses pembukuan dan auditing. Jadi, judul tersebut harus diganti tahun periodenya. Sedikit sih salahnya, tapi hal seperti ini pasti bakal kena revisi.

5.    Belum Siap Skripsi

Fenomena ini adalah fenomena yang paling buruk. Ada beberapa bahkan mungkin banyak di antara para mahasiswa tingkat akhir yang sebenarnya mereka belum siap untuk skripsi, tapi terpaksa untuk ikutan menyusun skripsi. Alasannya sederhana, mau cepat wisuda, mau wisuda bareng teman-teman, bahkan ada juga yang mau cepat-cepat upload foto di BBM dan Path pas lagi wisuda. Bagaimana ciri-ciri mahasiswa dengan fenomena seperti ini?

Ciri-ciri yang pertama adalah bagi mereka yang dalam segala tindakannya yang berkaitan dengan skripsi hanya ikut-ikutan teman. Bahkan kalau flashback ke belakang, khusus untuk jurusan manajemen, dalam memilih konsentrasinya aja ikut-ikutan teman. Enggak punya pendirian dan passion yang jelas. Jadi, tipe mahasiswa seperti ini pasti sangat bergantung pada temannya itu.

Ciri-ciri kedua adalah bagi mereka yang enggak paham tentang bagian dari skripsi itu sendiri. Mereka masih belum paham apa itu fenomena judul, seperti apa metodologi penelitiannya, apa bedanya pendekatan kualitatif dan kuantitatif, apa bedanya data primer dan data sekunder, bahkan ada yang enggak ngerti dengan judul yang mau diajukannya, maksud dan arahnya enggak paham, variabel-variabelnya pun apalagi.

Kalau kalian menemukan mahasiswa dengan ciri-ciri seperti di atas, jangan dijauhi. Justru merekalah yang harus dibantu dan diselamatkan. Kalau merekanya justru enggak mau dibantu, ya sudah, tinggalkan. Buang-buang waktu.

Demikian lima fenomena yang saya temukan di lingkungan sekitar. Sebenarnya, kalau kita biasa mengerjakan tugas-tugas sendiri, apalagi sudah terbiasa mengerjakan tugas makalah secara mandiri dan benar, serta siap untuk berjuang, skripsi itu bukanlah hal yang menakutkan. Seharusnya skripsi terlihat begitu menakutkan hanya untuk mereka yang malas, enggak terbiasa mengerjakan tugas, enggak mau berusaha dan yang maunya instant aja. Namun, kenyataannya skripsi terlihat seperti ‘hantu’ bagi mahasiswa tingkat akhir justru karena dibentuk oleh persepsi mahasiswanya sendiri. Persepsi seperti ini seperti sudah melekat dalam mindset kita. Dan persepsi seperti inilah yang bisa mempersulit kita dalam menyusun skripsi. Jadi, kalau mau menyusun skripsi dengan lebih mudah, ubahlah persepsi kita tentang skripsi dengan hal yang menyenangkan. Seperti kata Tsubasa, "Bola adalah teman", kita pun bisa tanamkan di benak kita, "Skripsi adalah teman", tapi teman yang sewaktu-waktu bisa menusuk kita dari belakang! Hahaha.

Sekian aja. Mohon maaf kalau ada kesalahan kata dan maksud. Mohon maaf juga kalau ada yang menanggapi saya ‘sok tahu’. Mohon maaf sekali lagi, kalau dari beberapa fenomena di atas ada yang merasa hal yang sama dan kemudian tersinggung. Semata-mata saya enggak menyindir ke salah seorang, tapi secara umum yang sedang terjadi.

Harapan saya, semoga artikel ini dapat bermanfaat dan memberikan pengaruh positif untuk teman-teman seperjuangan yang sedang menyusun skripsi. Jujur, harapan saya tentang wisuda, saya sangat ingin bisa wisuda bareng-bareng sama semua teman-teman yang saya kenal, terutama teman-teman dekat saya. Enggak ada yang tertinggal satupun. Cuma itu harapan saya untuk wisuda nanti. Semoga dapat terwujud. Aamiin.

Oh iya, sebagai penutup, saya cuma mengingatkan, khususnya pada teman-teman jurusan manajemen, jangan terlalu fokus pada skripsi, hingga mengabaikan rencana bisnis. Kerjakanlah secara berbarengan. Maaf sudah mengingatkan. Hehehe.

1 komentar:

  1. Nice Info Jangan Lupa Kunjungi http://jasapembuatanskripsiprofesional.blogspot.com/

    BalasHapus