Faktor-Faktor Keterpurukan Manchester
United Musim Ini
Moyes, Moyes, dan Moyes lagi yang
terus jadi bulan-bulanan media dan para haters ketika musim ini United
mengalami hasil yang mengecewakan. Dan untuk kesekian kalinya dalam musim ini,
fans United mengalami kekecewaan yang mendalam terhadap hasil yang kurang
memuaskan pada semifinal leg kedua Capital One Cup 2013-2014. Iya, secara
dramatis lewat adu pinalti United kalah melawan tim papan bawah BPL musim ini,
Sunderland. Mereka gagal ke partai final sekaligus gagal memenangi trofi yang
paling realistis untuk mereka dapatkan pada musim ini.
Kekalahan United di partai semi final
Capital One Cup tersebut menambah deretan kegagalan United setelah tersingkir
lebih awal di piala FA dan hanya meghuni di papan tengah BPL musim ini. Pertanyaannya
sekarang adalah, mengapa tim sekelas Manchester United, yang dalam dua dekade
ini menjadi tim penguasa Liga Inggris bahkan salah satu tim yang paling disegani
di daratan eropa bisa mengalami masa-masa kegagalan seperti ini? Apakah manajer
baru David Moyes menjadi orang yang paling bertanggung jawab dalam hal ini?
Mengapa nama Moyes yang selalu dijadikan kambing hitam?
Walaupun bukan pengamat sepakbola
terkenal tanah air seperti halnya Bung Towel dan Bung Kusnaeni, namun di sini
saya akan mencoba menganalisis atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Menurut
pribadi, saya kurang setuju apabila ada anggapan bahwa segala hasil mengecewakan
United musim ini adalah kesalahan David Moyes, padahal masih banyak faktor
lain. Berdasarkan analisis saya, berikut
saya uraikan beberapa faktor penyebab keterpurukan Manchester United musim ini.
1.
Masa Transisi Kepelatihan
Seperti yang telah kita ketahui bersama, Sir Alex Ferguson
meninggalkan United setelah dia membangun dinasti kepelatihannya selama 27
tahun (1986-2013) dengan torehan 34 trofi bagi The Red Devils. Sungguh prestasi
yang sangat sulit ditandingi oleh pelatih manapun di dunia ini sepanjang sejarah.
Pelatih manapun di dunia ini pasti akan mengemban tugas yang
berat apabila menjadi sosok pengganti pelatih legandaris tersebut, karena
siapapun penggantinya, dia bakal jadi pelatih dengan ekspektasi terbesar di
dunia. Bayang-bayang nama besar Fergie akan selalu melekat padanya. Sorotan
media dan publik pun tak luput dari setiap langkahnya. Lumbungan kritikan akan
selalu menghampiri perjalannya. Sedikit hasil mengecewakan, tekanan pasti
datang. Semakin banyak hasil mengecewakan, semakin bertubi-tubi tekanan datang
kepadanya. Dan itulah yang dialami semua terhadap David Moyes saat ini!
Tidak mudah menjadi sosok pengganti seorang legenda besar,
tidak mudah bekerja dengan bayang-bayang seorang pelatih hebat, tidak mudah
bekerja dengan ekspektasi super besar, tidak mudah bekerja dengan hadapan
berbagai kritikan tajam dan tekanan yang besar. Apalagi ketika Moyes memutuskan
untuk merombak hampir semua staf kepelatihan sebelumnya di United, di sini
Moyes memulai pekerjaannya dari awal lagi, dengan cara dan gayanya sendiri,
serta berusaha melepas bayang-bayang seorang Maestro. Tidak mudah memang,
semuanya butuh proses dan waktu.
2.
Badai Cedera Pemain
Siapa yang bisa menyangkal bahwa skuad United musim ini
dihadapi badai cedera pemain yang silih bergantian antar pemainnya? Hampir semua
pemain inti United pernah mengalami cedera pada musim ini. Sederet nama seperti
Nemanja Vidic, Michael Carrick, Luis Nani, Wayne Rooney, hingga Robin van
Persie tak luput dari hantaman cedera pada musim ini.
Lihatlah dampaknya apabila Vidic tidak bermain, lini
pertahanan United seringkali lengah dan tidak sekokoh ketika dia bermain.
Perhatikanlah pengaruh absennya Carrick sebagai pemain kunci di lini tengah
United, aliran bola dari belakang ke depan seringkali terhambat. Begitu juga
dengan absennya duet Rooney-RVP di lini depan, produktivitas gol United musim
ini jauh lebih rendah dibanding musim kemarin.
Jelas sekali di sini, pelatih manapun akan merasa pusing
apabila pemain-pemainnya sering kali dihantam cedera karena dampaknya kepada tim
yang merugikan.
3.
Kelemahan di Lini Pertahanan dan Lini
Tengah
Inilah yang menjadi problem skuad United dalam beberapa musim
belakangan ini. Sektor pertahanan United seringkali lengah, membuat blunder,
kurangnya konsentrasi, komunikasi dan koordinasi, serta kelemahan bola-bola
atas dan tendangan bola mati adalah rentetan kelemahan United di sektor
pertahanan. Yang terbaru adalah blunder fatal David De Gea pada pertandingan
kemarin melawan Sunderland. Karena kurang konsentrasi, gawangnya kebobolan
setelah De Gea tidak sempurna dalam mengantisipasi tendangan Phil Bardsley dari
luar kotak pinalti, sehingga bola terlepas dan masuk ke gawang.
Di lini tengah lah sebenarnya sektor yang paling penting
untuk segera dibenahi. Sepeninggal Paul Scholes sebagai jenderal lapangan
tengah United, sampe sekarang United belum menemukan sosok yang pas untuk
menggantikannya. Carrick sebagai sosok yang tak tergantikan di lini tengah,
menjadi ketergantungan apabila dia tidak bisa bermain. Partner Carrick di
tengah, sebut saja Cleverley, Fellaini, Fletcher, bahkan Giggs, belum dapat
menggantikan sosok Scholes sebagai pengatur ritme pertandingan.
Kelemahan utama di lini tengah united adalah kurangnya
kreativitas di posisi central midfielder (CM). Hal ini menyebabkan aliran bola
dari belakang ke depan terhambat, ritme pertandingan sulit dikendalikan dan cepat
mengalami kejenuhan apabila kesulitan dalam membantu penyerangan. Sosok macam
Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Cesc Fabregas, Luka Modric, dan Koke sangat dibutuhkan
United saat ini.
4.
Kegagalan dalam Bursa Transfer
Secara logika sederhana, punya uang banyak tentunya bukan hal
yang sulit bagi klub manapun untuk memboyong pemain incarannya. Namun kegagalan
United dalam bursa transfer musim panas kemarin mematahkan statement di atas.
Nama-nama seperti Thiago Alcantara, Cesc Fabregas, Mesut Ozil, Leighton Baines,
Cristiano Ronaldo, Robert Lewandowski, dan Ander Herrera adalah sederet nama
pemain incaran United yang seringkali dikait-kaitkan dengan United namun gagal
didatangkan musim ini.
Hanya Guillermo Varela dan Marouane Fellaini yang berhasil
didatangkan United musim ini. Namun hanya nama terakhir tersebut yang sudah
bisa dimainkan musim ini. Tapi hasilnya? Sangat tidak efektif. Dengan mahar
yang dibayar United cukup tinggi, yaitu sebesar 27,5 juta pounds, musim ini Fellaini
masih belum memberikan performa terbaiknya bagi United. Alih-alih tampil
mengesankan, Fellaini malah kerap kali dibekap cedera cukup panjang selama di
United.
“Tapi musim kemarin dengan skuad yang hampir sama, United
bisa jadi juara BPL kok?”, mungkin ada pertanyaan seperti itu. Begini. Apakah
ketika United juara BPL musim lalu setelah itu tim pesaing hanya diam saja
dalam menambah kekuatan tim? Tidak! Chelsea, City, Arsenal, Spurs dan Liverpool
menambah kekuatan timnya dengan pembelian pemain baru yang lebih efektif dibanding
United. Menghadapi lawan-lawan dengan kekuatan baru yang lebih kuat. Tentunya dalam
hal ini tim manapun harus menambah kekuatan juga demi menghadapi persaingan
baru. Tapi United? Gagal total di bursa Transfer.
5.
Semangat Juang dan Mental Juara
Pemain yang Meredup
Musim lalu, United terkenal dengan comeback-nya dalam suatu
pertandingan. Seringkali kalah di awal, namun skuad United berhasil membalikkan
keadaan tim dan pada akhirnya menang. Semangat juang para pemain yang tak kenal
lelah sepanjang pertandingan dengan dibalut mental juara skuad United yang
sudah mendarah daging itu sangat terlihat di musim kemarin.
Namun bagaimana musim ini? Justru kebalikannya. Jika
diperhatikan, justru musim ini tim lawan lah yang berperan sebagai United musim
lalu. Seringkali United unggul di awal-awal pertandingan, namun di menit-menit
akhir skuad United lengah dan kebobolan, yang pada akhirnya United gagal meraih
kemenangan bahkan mengalami kekalahan. Dan ketika United sudah tertinggal,
pasukannya sulit untuk bisa membalikkan keadaan seperti pada musim lalu. Yang
terlihat adalah wajah-wajah kecapekan dan frustasi para pemain.
Semangat juang yang militan dan mental juara para pemain musim
lalu seperti sudah terkikis di era Moyes ini. Entah apa yang dilakukan Fergie
pada musim-musim sebelumnya yang bisa membuat anak asuhnya selalu tampil penuh
semangat pantang menyerah dan bermental juara. Tidak seperti musim ini.
Itulah beberapa faktor penyebab
keterpurukan United musim ini. Mungkin kalau Moyes melatih di tim lain, bahkan
di Chelsea, dia sudah angkot koper dari kemarin-kemarin. Namun manajemen United
bukanlah seperti itu. Fergie pun waktu pertama kali datang ke Old Trafford
musim pertamanya tanpa gelar. Namun manajemen United bersabar, dan hasilnya
sangat memuaskan. Andai pada waktu itu manajemen United memecat Fergie di musim
pertamanya, 34 trofi bergengsi yang dipersembahkan Fergie belum tentu
terpampang di Old Trafford sampai saat ini.
Kalau setelah ini tidak ada perubahan
dalam skuad United, saya yakin musim ini United tanpa gelar satu pun (di luar
Community Shield). Dan Fans United harus terbiasa menerima keadaan ini.
Terbiasa menerima kekalahan dan kekecewaan. Terbiasa menerima bully-an dari teman-teman
dan sosial media. Setidaknya sebagai fans United, kita (saya juga fans United) harus
bisa membela diri dalam keadaan yang seperti ini dengan pendapat dan sanggahan
yang argumentatif.
Kalau argumentasi saya ketika
diserang tentang United, tanggapan simpelnya: Arsene Wenger saja yang sudah 9
tahun tidak mempersembahkan satu gelar pun buat The Gunners sampai sekarang
masih duduk santai sebagai pelatih Arsenal. Moyes yang baru beberapa bulan
menukangi united dan bahkan sudah mempersembahkan (setidaknya) 1 gelar, masa
langsung dipecat gitu saja? Tak adil bukan?
Lalu kenapa selalu ada tekanan
seperti ini kepada Moyes? Hal ini menunjukkan bahwa United itu tim besar yang
sangat disegani banyak orang, yang tidak terbiasa dengan yang namanya kekalahan
terus menerus. Coba kalau Arsenal dan Liverpool yang seperti United musim ini?
Ya biasa saja. Berarti beda persepsi kan dalam benak orang-orang terhadap
United dan tim lain seperti Arsenal dan Liverpool? Intinya, sampai saat ini positioning
United masih berada di atas Arsenal maupun Liverpool, walaupun dalam klasemen
BPL United di bawah mereka.
Bahkan positioning United masih lebih
unggul daripada jawara 7 kali liga Champions, AC Milan. Pada waktu yang
bersamaan, media dan publik lebih menyoroti kemerosotan prestasi United yang
berperingkat 7 di klasemen sementara BPL dan terpaut 14 poin dari pemuncak
klasemen dibanding kemerosotan AC Milan yang sampai saat ini bercokol di
peringkat 11 klasemen sementara Serie A dan terpaut 30 poin dari pemuncak
klasemen.
Well, dengan kondisi
kritis seperti ini, United harus bangkit! Badai pasti berlalu! Peran kita
sebagai fans United adalah terus mendukung United sampai kapanpun dan dalam
kondisi apapun. Dengan hadirnya Juan Mata (belum resmi), setidaknya bisa
menjadi angin segar buat kita untuk menatap harapan di depan yang lebih baik
dan semoga bisa memberi perubahan positif bagi skuad United. Saya yakin Moyes
bisa bangkit dan membangkitkan pasukannya serta membawa perubahan bagi United
ke track yang sebenarnya. Glory Glory Manchester United!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar