Mengenai Saya

Foto saya
Twitter : @moch_riandy l Facebook : Riandy Astadipraja

Jumat, 24 Januari 2014

Faktor-Faktor Keterpurukan Manchester United Musim Ini
 
Moyes, Moyes, dan Moyes lagi yang terus jadi bulan-bulanan media dan para haters ketika musim ini United mengalami hasil yang mengecewakan. Dan untuk kesekian kalinya dalam musim ini, fans United mengalami kekecewaan yang mendalam terhadap hasil yang kurang memuaskan pada semifinal leg kedua Capital One Cup 2013-2014. Iya, secara dramatis lewat adu pinalti United kalah melawan tim papan bawah BPL musim ini, Sunderland. Mereka gagal ke partai final sekaligus gagal memenangi trofi yang paling realistis untuk mereka dapatkan pada musim ini.
Kekalahan United di partai semi final Capital One Cup tersebut menambah deretan kegagalan United setelah tersingkir lebih awal di piala FA dan hanya meghuni di papan tengah BPL musim ini. Pertanyaannya sekarang adalah, mengapa tim sekelas Manchester United, yang dalam dua dekade ini menjadi tim penguasa Liga Inggris bahkan salah satu tim yang paling disegani di daratan eropa bisa mengalami masa-masa kegagalan seperti ini? Apakah manajer baru David Moyes menjadi orang yang paling bertanggung jawab dalam hal ini? Mengapa nama Moyes yang selalu dijadikan kambing hitam?
Walaupun bukan pengamat sepakbola terkenal tanah air seperti halnya Bung Towel dan Bung Kusnaeni, namun di sini saya akan mencoba menganalisis atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Menurut pribadi, saya kurang setuju apabila ada anggapan bahwa segala hasil mengecewakan United musim ini adalah kesalahan David Moyes, padahal masih banyak faktor lain.  Berdasarkan analisis saya, berikut saya uraikan beberapa faktor penyebab keterpurukan Manchester United musim ini.
1.    Masa Transisi Kepelatihan
Seperti yang telah kita ketahui bersama, Sir Alex Ferguson meninggalkan United setelah dia membangun dinasti kepelatihannya selama 27 tahun (1986-2013) dengan torehan 34 trofi bagi The Red Devils. Sungguh prestasi yang sangat sulit ditandingi oleh pelatih manapun di dunia ini sepanjang sejarah.
Pelatih manapun di dunia ini pasti akan mengemban tugas yang berat apabila menjadi sosok pengganti pelatih legandaris tersebut, karena siapapun penggantinya, dia bakal jadi pelatih dengan ekspektasi terbesar di dunia. Bayang-bayang nama besar Fergie akan selalu melekat padanya. Sorotan media dan publik pun tak luput dari setiap langkahnya. Lumbungan kritikan akan selalu menghampiri perjalannya. Sedikit hasil mengecewakan, tekanan pasti datang. Semakin banyak hasil mengecewakan, semakin bertubi-tubi tekanan datang kepadanya. Dan itulah yang dialami semua terhadap David Moyes saat ini!
Tidak mudah menjadi sosok pengganti seorang legenda besar, tidak mudah bekerja dengan bayang-bayang seorang pelatih hebat, tidak mudah bekerja dengan ekspektasi super besar, tidak mudah bekerja dengan hadapan berbagai kritikan tajam dan tekanan yang besar. Apalagi ketika Moyes memutuskan untuk merombak hampir semua staf kepelatihan sebelumnya di United, di sini Moyes memulai pekerjaannya dari awal lagi, dengan cara dan gayanya sendiri, serta berusaha melepas bayang-bayang seorang Maestro. Tidak mudah memang, semuanya butuh proses dan waktu.
2.    Badai Cedera Pemain
Siapa yang bisa menyangkal bahwa skuad United musim ini dihadapi badai cedera pemain yang silih bergantian antar pemainnya? Hampir semua pemain inti United pernah mengalami cedera pada musim ini. Sederet nama seperti Nemanja Vidic, Michael Carrick, Luis Nani, Wayne Rooney, hingga Robin van Persie tak luput dari hantaman cedera pada musim ini.
Lihatlah dampaknya apabila Vidic tidak bermain, lini pertahanan United seringkali lengah dan tidak sekokoh ketika dia bermain. Perhatikanlah pengaruh absennya Carrick sebagai pemain kunci di lini tengah United, aliran bola dari belakang ke depan seringkali terhambat. Begitu juga dengan absennya duet Rooney-RVP di lini depan, produktivitas gol United musim ini jauh lebih rendah dibanding musim kemarin.
Jelas sekali di sini, pelatih manapun akan merasa pusing apabila pemain-pemainnya sering kali dihantam cedera karena dampaknya kepada tim yang merugikan.
3.    Kelemahan di Lini Pertahanan dan Lini Tengah
Inilah yang menjadi problem skuad United dalam beberapa musim belakangan ini. Sektor pertahanan United seringkali lengah, membuat blunder, kurangnya konsentrasi, komunikasi dan koordinasi, serta kelemahan bola-bola atas dan tendangan bola mati adalah rentetan kelemahan United di sektor pertahanan. Yang terbaru adalah blunder fatal David De Gea pada pertandingan kemarin melawan Sunderland. Karena kurang konsentrasi, gawangnya kebobolan setelah De Gea tidak sempurna dalam mengantisipasi tendangan Phil Bardsley dari luar kotak pinalti, sehingga bola terlepas dan masuk ke gawang.
Di lini tengah lah sebenarnya sektor yang paling penting untuk segera dibenahi. Sepeninggal Paul Scholes sebagai jenderal lapangan tengah United, sampe sekarang United belum menemukan sosok yang pas untuk menggantikannya. Carrick sebagai sosok yang tak tergantikan di lini tengah, menjadi ketergantungan apabila dia tidak bisa bermain. Partner Carrick di tengah, sebut saja Cleverley, Fellaini, Fletcher, bahkan Giggs, belum dapat menggantikan sosok Scholes sebagai pengatur ritme pertandingan.
Kelemahan utama di lini tengah united adalah kurangnya kreativitas di posisi central midfielder (CM). Hal ini menyebabkan aliran bola dari belakang ke depan terhambat, ritme pertandingan sulit dikendalikan dan cepat mengalami kejenuhan apabila kesulitan dalam membantu penyerangan. Sosok macam Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Cesc Fabregas, Luka Modric, dan Koke sangat dibutuhkan United saat ini.
4.    Kegagalan dalam Bursa Transfer
Secara logika sederhana, punya uang banyak tentunya bukan hal yang sulit bagi klub manapun untuk memboyong pemain incarannya. Namun kegagalan United dalam bursa transfer musim panas kemarin mematahkan statement di atas. Nama-nama seperti Thiago Alcantara, Cesc Fabregas, Mesut Ozil, Leighton Baines, Cristiano Ronaldo, Robert Lewandowski, dan Ander Herrera adalah sederet nama pemain incaran United yang seringkali dikait-kaitkan dengan United namun gagal didatangkan musim ini.
Hanya Guillermo Varela dan Marouane Fellaini yang berhasil didatangkan United musim ini. Namun hanya nama terakhir tersebut yang sudah bisa dimainkan musim ini. Tapi hasilnya? Sangat tidak efektif. Dengan mahar yang dibayar United cukup tinggi, yaitu sebesar 27,5 juta pounds, musim ini Fellaini masih belum memberikan performa terbaiknya bagi United. Alih-alih tampil mengesankan, Fellaini malah kerap kali dibekap cedera cukup panjang selama di United.
“Tapi musim kemarin dengan skuad yang hampir sama, United bisa jadi juara BPL kok?”, mungkin ada pertanyaan seperti itu. Begini. Apakah ketika United juara BPL musim lalu setelah itu tim pesaing hanya diam saja dalam menambah kekuatan tim? Tidak! Chelsea, City, Arsenal, Spurs dan Liverpool menambah kekuatan timnya dengan pembelian pemain baru yang lebih efektif dibanding United. Menghadapi lawan-lawan dengan kekuatan baru yang lebih kuat. Tentunya dalam hal ini tim manapun harus menambah kekuatan juga demi menghadapi persaingan baru. Tapi United? Gagal total di bursa Transfer.
5.    Semangat Juang dan Mental Juara Pemain yang Meredup
Musim lalu, United terkenal dengan comeback-nya dalam suatu pertandingan. Seringkali kalah di awal, namun skuad United berhasil membalikkan keadaan tim dan pada akhirnya menang. Semangat juang para pemain yang tak kenal lelah sepanjang pertandingan dengan dibalut mental juara skuad United yang sudah mendarah daging itu sangat terlihat di musim kemarin.
Namun bagaimana musim ini? Justru kebalikannya. Jika diperhatikan, justru musim ini tim lawan lah yang berperan sebagai United musim lalu. Seringkali United unggul di awal-awal pertandingan, namun di menit-menit akhir skuad United lengah dan kebobolan, yang pada akhirnya United gagal meraih kemenangan bahkan mengalami kekalahan. Dan ketika United sudah tertinggal, pasukannya sulit untuk bisa membalikkan keadaan seperti pada musim lalu. Yang terlihat adalah wajah-wajah kecapekan dan frustasi para pemain.
Semangat juang yang militan dan mental juara para pemain musim lalu seperti sudah terkikis di era Moyes ini. Entah apa yang dilakukan Fergie pada musim-musim sebelumnya yang bisa membuat anak asuhnya selalu tampil penuh semangat pantang menyerah dan bermental juara. Tidak seperti musim ini.
Itulah beberapa faktor penyebab keterpurukan United musim ini. Mungkin kalau Moyes melatih di tim lain, bahkan di Chelsea, dia sudah angkot koper dari kemarin-kemarin. Namun manajemen United bukanlah seperti itu. Fergie pun waktu pertama kali datang ke Old Trafford musim pertamanya tanpa gelar. Namun manajemen United bersabar, dan hasilnya sangat memuaskan. Andai pada waktu itu manajemen United memecat Fergie di musim pertamanya, 34 trofi bergengsi yang dipersembahkan Fergie belum tentu terpampang di Old Trafford sampai saat ini.
Kalau setelah ini tidak ada perubahan dalam skuad United, saya yakin musim ini United tanpa gelar satu pun (di luar Community Shield). Dan Fans United harus terbiasa menerima keadaan ini. Terbiasa menerima kekalahan dan kekecewaan. Terbiasa menerima bully-an dari teman-teman dan sosial media. Setidaknya sebagai fans United, kita (saya juga fans United) harus bisa membela diri dalam keadaan yang seperti ini dengan pendapat dan sanggahan yang argumentatif.
Kalau argumentasi saya ketika diserang tentang United, tanggapan simpelnya: Arsene Wenger saja yang sudah 9 tahun tidak mempersembahkan satu gelar pun buat The Gunners sampai sekarang masih duduk santai sebagai pelatih Arsenal. Moyes yang baru beberapa bulan menukangi united dan bahkan sudah mempersembahkan (setidaknya) 1 gelar, masa langsung dipecat gitu saja? Tak adil bukan?
Lalu kenapa selalu ada tekanan seperti ini kepada Moyes? Hal ini menunjukkan bahwa United itu tim besar yang sangat disegani banyak orang, yang tidak terbiasa dengan yang namanya kekalahan terus menerus. Coba kalau Arsenal dan Liverpool yang seperti United musim ini? Ya biasa saja. Berarti beda persepsi kan dalam benak orang-orang terhadap United dan tim lain seperti Arsenal dan Liverpool? Intinya, sampai saat ini positioning United masih berada di atas Arsenal maupun Liverpool, walaupun dalam klasemen BPL United di bawah mereka.
Bahkan positioning United masih lebih unggul daripada jawara 7 kali liga Champions, AC Milan. Pada waktu yang bersamaan, media dan publik lebih menyoroti kemerosotan prestasi United yang berperingkat 7 di klasemen sementara BPL dan terpaut 14 poin dari pemuncak klasemen dibanding kemerosotan AC Milan yang sampai saat ini bercokol di peringkat 11 klasemen sementara Serie A dan terpaut 30 poin dari pemuncak klasemen.
Well, dengan kondisi kritis seperti ini, United harus bangkit! Badai pasti berlalu! Peran kita sebagai fans United adalah terus mendukung United sampai kapanpun dan dalam kondisi apapun. Dengan hadirnya Juan Mata (belum resmi), setidaknya bisa menjadi angin segar buat kita untuk menatap harapan di depan yang lebih baik dan semoga bisa memberi perubahan positif bagi skuad United. Saya yakin Moyes bisa bangkit dan membangkitkan pasukannya serta membawa perubahan bagi United ke track yang sebenarnya. Glory Glory Manchester United!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar